You Can Build "Deep Work" Skills to Increase Productivity

(In a world full of distractions / Di dunia yang penuh gangguan), (maintaining focus / untuk tetap fokus) is a tall order(prioritas utama). (You've probably already gotten / Kamu mungkin sudah mendapatkan) a new notification on your phone since opening this article. Not your fault. The key to increasing your productivity and actually getting things done without Instagram likes and group texts getting in the way is "deep work." (It's a skill that will take some practice / ini adalah keahlian yang akan membutuhkan banyak latihan), (but will pay off big time / namun akan terbayarkan hasilnya)

The Deep End

The term "deep work" (was coined by / diberi istilah oleh) Cal Newport, an author and associate professor of computer science at Georgetown University. He should know a thing or five about being productive: He earned a PhD from MIT (in just a few years / hanya dalam beberapa tahun saja), (has published / yang telah menerbitkan) five books and many academic papers, and blogs regularly, yet he's married with two kids and (rarely works on the weekends / jarang bekerja di hari libur). In addition to time blocking his entire workday the night before, Newport relies on his deep work skills to remain an enviously productive dude.

(He describes deep work as the following / Dia menggambarkan ...... sebagai): "Professional activities performed (in a state of / diistilahkan sebagai) distraction-free concentration that (push your cognitive capabilities to their limit / memaksa hingga batas kemampuannya). These efforts create new value, (improve your skills / meningkatkan kemampuan anda), and (are hard to replicate. / sulit untuk ditiru)" Some examples include writing a book, creating music, or solving a difficult problem. In contrast, there is shallow work: "Non-cognitively demanding, (logistical-style tasks / kerja yang membutuhkan logika), often performed (while distracted / ketika terganggu). These efforts tend to not create new value in the world and (are easy to replicate. / mudah untuk ditiru)" Examples include reading emails, filing expenses, and other easily checked items on your to-do list.

Time to Focus

In our distraction-heavy society, Newport (argues / menyatakan) that the ability (to access a state / untuk mencapai keadaan) of deep work is (becoming / menjadi) both more valuable and more rare. (Spending more time / menghabiskan waktu yang lebih banyak) in deep work than in shallow work is key to accomplishing more with your time.

Great, (so you can do this by just / jadi anda dapat melakukan ini semua dengan hanya) blocking off time to only do the thing you're trying to do, right? (Not exactly / Kurang tepat). (According to / menurut) Newport, the notification-heavy lives we live have trained our brains and reduced our attention spans. "(You have to treat your attention / Kamu harus memberi perhatian ) (with a lot of respect / dengan penuh perhatian), like a professional athlete might treat their body," Newport tells Entrepreneur. (Sharpening / mempertajam) your deep work skills (can be done with / dapat dilakukan dengan) intentional practice focusing and (removing distractions / menghilangkan gangguan). (The result / Hasilnya), according to Newport? (You'll be able / Anda akan bisa ) to learn (difficult things / hal-hal yang sulit) faster and create to the best of your ability.

Source

Cara Belajar yang Efektif dan Terbukti Berhasil

On
Jika kita ingin mempelajari sesuatu entah itu untuk bidang ilmu pengetahuan atau bidang ilmu praktek seperti membuat kue dan lain sebagainya tidak terlepas dari yang namanya proses.

Proses ini yang disebut dengan proses belajar. Dengan proses belajar inilah kita bisa menjadi berhasil atau bisa jadi gagal. Tidak semua proses belajar itu bisa membuat orang berhasil.

Seperti orang yang ingin belajar berenang, proses belajar berenangnya langsung terjun ke laut lepas. Ya pasti gagal dan tenggelam.

Atau jika dia mau mulailah dari kolam anak-anak, rasakan dulu bagaimana di dalam air, belajar cara mengambang, dan seterusnya. Ya, Insya Allah kalo ini pasti bisa sukses.

Kita bisa mencontoh proses belajar anak kecil yang sedang belajar membaca. Di mulai dari mengenal huruf hingga merangkai huruf menjadi sebuah kata. Belajar mengucapkan, menuliskan, hingga pengertian dari kata-kata tersebut. Sedikit demi sedikit, setahap demi setahap, pelajarannya di tambah dan ditingkatkan. Demikianlah cara belajar yang benar.

Kegagalan dalam proses belajar banyak terjadi akibat salahnya sistem belajar yang diterapkan. Mereka tidak memulai dari yang sederhana dulu, langsung meloncat ke pelajaran yang lebih kompleks, atau belajarnya seperti kutu loncat, tidak terstruktur dan tidak terkontrol.

Seharusnya dalam proses belajar haruslah diterapkan sistem naik tangga melalui sub proses seperti berikut ini:
  1. Mendengar
  2. Memahami
  3. Mempraktekkan
  4. Menjelaskan kembali
  5. Mengulang
Contoh jika kita ingin belajar Bahasa Bahasa Inggris. Mulailah dari kata-kata dasar seperti memperkenalkan diri.
  1. Dengarkan terlebih dahulu kalimat yang diucapkan oleh native speaker.
  2. Pahami setiap kalimat yang diucapkan maknanya apa.
  3. Coba dipraktekkan, jika ada teman lebih bagus, jika tidak ada, bisa dengan  berbicara dengan diri sendiri.
  4. Coba jelaskan ke orang lain pelajaran yang telah dipelajari tadi. Jika ada beberapa bagian yang lupa, anda bisa kembali melihat materi pelajaran tersebut.
  5. Sebelum memulai pelajaran baru, coba ulangi kembali pelajaran sebelumnya. Demikian seharusnya.
Jadi bukannya langsung belajar Grammar S+V+O dan rumus lainnya. Ibarat anak kelas 1 SD disuruh belajar pelajaran anak kelas 6 SD. Dipastikan gagal.

Ada pepatah bijak yang mengatakan, "Jika ingin memindahkan tumpukan batu yang menggunung, bukanlah dengan cara memikirkan bagaimana memindahkan tumpukan batu tersebut sekaligus, tapi mulailah dengan satu buah batu, diikuti dengan satu batu lainnya."

Sabar, Konsistensi, dan Fokus adalah modal utama dalam menjalankan proses belajar tersebut. Jika urutan proses belajar nya sudah tepat namun si pelajar tidaklah sabar, ingin cepat langsung menguasai pelajaran tersebut, maka yang terjadi adalah kejemuan dalam belajar. Proses belajar membutuhkan waktu. Konsistensi juga diperlukan, karena jika sebentar-sebentar merubah pelajaran yang ingin dikuasai, maka akan membuat seseorang menjadi selalu mengulang dari awal terus. Fokus, ini yang penting, karena jika kita terlalu banyak yang ingin di pelajari dibanding kita harus fokus pada satu pelajaran saja, maka yang terjadi adalah kita tidak akan benar-benar bisa menguasai pelajaran yang kita pelajari.

Jika anda ingin bisa bahasa Inggris, maka jangan belajar bahasa lainnya, mendalami pelajaran lainnya. Fokuslah dengan Bahasa Inggris, dari bangun pagi hingga mau tidur, yang anda pelajari hanyalah bahasa Inggris.

Otak manusia itu terbatas, waktu kita juga terbatas, jadi tentukanlah apa yang anda ingin pelajari dan dalami yang kira-kira bisa bermanfaat minimal bagi diri sendiri dan lebih bagus lagi jika bisa bermanfaat untuk orang lain.

Inilah termasuk kesalahan dari sistem pendidikan di Indonesia atau mungkin di dunia saat ini. Kita banyak disuguhkan pelajaran-pelajaran yang tidak bermanfaat bagi kehidupan masa depan kita. Seperti contoh pelajaran fisika, menghitung rumus dan lain-lain. Bagi sebagian orang, ini penting, jika dia ingin menjadi seorang guru fisika, atau menjadi ilmuwan, dan sebagainya. Tapi pertanyaannya lebih banyak mana orang yang ingin menjadi guru fisika atau orang yang ingin menjadi pedagang? Apakah pedagang butuh pelajaran fisika?

Waktu yang diberikan terasa sempit, sayang jika kita sia-siakan untuk mempelajari sesuatu yang tidak bisa membantu kita untuk menghasilkan uang.

Kembali kepada Topik kita kali ini. Seseorang yang ingin mempelajari sesuatu, hendaklah memulainya dari yang dasar, kuasai dasar nya, kemudian tingkatkanlah pelajarannya sedikit demi sedikit dengan menerapkan 5 sub proses di atas. Semoga berhasil!

Mengapa harus memiliki website atau blog?

On


Untuk eksis di dunia maya sepertinya sudah banyak jalan yang bisa ditempuh seseorang tanpa harus memiliki sebuah website. Seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan sejenisnya, memberikan kesempatan kepada kita untuk bisa eksis di dunia maya.

Memang sih, kemudahan yang ditawarkan platform media sosial tersebut membuat seseorang yang baru pertama kali belajar menggunakan aplikasi langsung bisa bermain tanpa harus belajar seperti anda yang akan mempelajari cara membuat website.

Jadi memang ada segmentasi tersendiri, seperti mereka yang hanya ingin bertemu dengan teman-teman lama, atau ingin memamerkan kegiatannya tanpa ada niat bisnis, saya rasa media sosial sudah cukup. Bagi mereka yang ingin berjualan cukup dengan membuka toko online di Tokopedia, Shopee, Bukalapak, atau Kaskus. Bagi perusahaan, organisasi, atau institusi lainnya, maka wajib memiliki sebuah website. Namun jika anda ingin tampil sebagai seorang profesional, atau ingin berbagi ilmu, atau ingin mencari uang dari internet, maka website atau blog menjadi sebuah keharusan.

Membuat website atau blog bisa menghasilkan uang? Ya tentu saja, cuma ya tidak semudah yang dibayangkan, tapi tidak pernah ada kata terlambat, semuanya memiliki kesempatan yang sama. Tidak seperti MLM yang hanya sukses adalah yang pertama. Tidak di dalam dunia internet.

Dan sebenarnya untuk membuat sebuah website atau blog sangatlah mudah dan sederhana walau memang jika ingin lebih profesional mestilah ada belajar sedikit tentang bahasa HTML, namun jangan membuat anda surut untuk memulai berbagi sesuatu dengan dunia. Seperti saya yang akan mencoba berbagi ilmu dalam ilmu membuat website dan bagaimana menggunakan website-website lainnya untuk memudahkan kita di dalam pekerjaan sehari-hari. Apalagi anda yang suka menulis, jika tulisan anda tidak diterima di koran untuk ditayangkan, atau untuk eksis di dunia pertelevisian sangat tidak memungkinkan, internet menyediakan untuk anda untuk bisa eksis tanpa dipungut biaya dan syarat tertentu.

Di artikel selanjutnya, kita akan memulai, bagaimana cara membuat blog atau website yang mudah dan tidak ribet berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang website developer.

Copyright © 2017 yosiro.com All Rights Reserved